Cop Manual Rujukan KIA

Latar belakang

Data menunjukkan bahwa penurunan laju kematian ibu dan bayi di Indonesia belum seperti yang diharapkan. Terdapat perbedaan antar wilayah yang sangat mencolok, ada daerah yang sudah cukup bagus, tetapi ada yang masih sangat jelek. Misalnya D.I. Yogyakarta merupakan provinsi terbaik secara nasional dalam urusan Angka Kematian Ibu AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), namun dalam 5 tahun terakhir jumlah kematian tersebut cenderung mengalami kenaikan. Hasil AMP tahun 2011 menunjukkan bahwa 59% dari kematian tersebut sebenarnya bisa dicegah (avoidable). Adanya Jampersal tahun 2011 belum bisa menekan angka kematian, malah data menunjukkan bahwa di tahun 2011 rata-rata mengalami kenaikan dibanding tahun 2010. Pengkajian melalui AMP diketahui bahwa penyebab utama kematian karena faktor keterlambatan dan diketahui bahwa kematian disebabkan oleh penyebab tidak langsung.

Yang menarik, sekitar 50% kematian tersebut terjadi pada triwulan ketiga tahun 2013. Disinyalir bahwa kematian tersebut terjadi di sarana pelayanan kesehatan yang seharusnya memadai, tetapi terjadi keterlambatan penanganan karena mutu pelayanan RS dan mutu rujukan masih menjadi pertanyaan besar. Padahal DIY merupakan bagian dari NKRI yang memiliki segalanya (saryankes, SDM, peralatan, sarpras pendukung, dll. Banyak standar dan pedoman tentang Sistem Rujukan yang telah dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan RI, tetapi dalam implementasinya di daerah mengalami hambatan karena perbedaan kondisi/kesenjangan yang luar biasa antar daerah yang satu dengan yang lainnya.

Pada tahun 2007 Kemenkes RI telah mengeluarkan Pedoman Sistem Rujukan Maternal dan Neonatal di tingkat Kabupaten/Kota tetapi dalam pelaksanaannya belum bisa menjawab dengan tepat kebutuhan masing-masing daerah secara nasional. Pedoman tersebut berbeda dengan wilayah di Indonesia bagian timur atau wilayah lain di luar Jawa. Pelaksanaan sistem rujukan tidak memiliki pola yang jelas, tata hubungan kerja antar pelaku (Puskesmas, RSUD, RS Swasta, RS Top Referal) belum terpola dengan baik. Begitu juga dengan keterkaitan antar sistem. Sistem pembiayaan, sistem informasi/komunikasi, dan sistem transportasi tidak terkoneksi dengan baik antar program, masing-masing dibangun oleh para pelaku yang berbeda sesuai dengan tupoksinya masing-masing.Melihat permasalahan tersebut maka perlu adanya upaya untuk mengaitkan berbagai sistem yang telah dibangun tersebut dalam sebuah manual rujukan sehingga memudahkan para pengelola dan pelaksana program mengimplementasikannya. Provinsi DIY, NTT, Papua dan Kalimantan telah mengembangkan manual rujukan KIA dengan difasilitasi oleh FK UGM dan Kemenkes (Direktorat Gizi KIA). Pada saat ini telah tersusun dan diterapkan oleh 5 kabupaten/kota DIY, 11 Kabupaten di NTT, Kabupaten Jayapura dan Kota Balikpapan.

Prinsip utama manual rujukan yang disusun adalah untuk mengurangi kepanikan dan kegaduhan yang tidak perlu dengan cara menyiapkan persalinan (rujukan terencana) bagi yang membutuhkan (pre-emptive strategy). Sementara itu bagi persalinan emergency harus ada alur yang jelas, bertumpu pada proses pelayanan KIA yang menggunakan continum of care dengan sumber dana, sarana pelayanan kesehatan yaitu RS PONEK 24 jam, Puskesmas PONED, dan sarana pelayanan kesehatan lainnya seperti Puskesmas, bidan praktek, Rumah Bersalin, dokter Praktek umum dan lain-lain.

Harus ada RS PONEK 24 jam dengan hotline yang dapat dihubungi 24 jam, ada hotine di Dinas Kesehatan 24 jam dengan sistem jaga untuk mendukung kegiatan persalinan di RS, memperhatikan secara maksimal ibu-ibu yang masuk kedalam resiko tinggi daat ANC dan resiko tinggi saat persalinan dan menekankan koordinasi antar lembaga dan pelaku serta memberikan petunjuk rinci yang jelas mengenai pembiayaan.

 

Tujuan

CoP ini bertujuan secara umum untuk: Membangun sistem rujukan KIA sesuai dengan kondisi masing-masing daerah. Secara khusus CoP ini menjadi:

  1. Media diskusi untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam rangka penyusunan sistem rujukan KIA berbasis manual rujukan
  2. Media pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam menyusun sistem rujukan KIA berbasis manual rujukan
  3. Sumber berbagai evidence based dan literatur yang terkait dengan sisterm rujukan KIA

CoP ini diharapkan dapat menghasilkan:

  1. Dokumen manual rujukan KIA di kabupaten/kota masing-masing
  2. Laporan pelaksanaan manual rujukan secara periodik

 

Peserta

CoP ini diharapkan dapat terdiri dari para praktisi yang terkait dengan Rujukan KIA, yaitu
  1. Pimpinan dan staf dinas kesehatan provinsi
  2. Pimpinan dan staf dinas kesehatan kabupaten/kota
  3. Direktur dan staf RSUD dan RS Swasta
  4. Kepala dan staf Puskesmas dan Pelayanan Kesehatan Primer lainnya
  5. Dokter spesialis obsteri dan ginekologi
  6. Bidan
  7. Perawat
  8. Organisasi profesi (IDI, IBI, PPNI, POGI dan IDAI)
  9. Institusi pendidikan tenaga kesehatan

 

Kegiatan

  1. Diskusi rutin
    1. Diselenggarakan melalui aplikasi media sosial Whats App dengan moderator dimana setiap topik akan dibahas hingga menghasilkan sebuah kesimpulan sebelum beralih ke topik lain. Catatan diskusi rutin dari Whats App akan dirangkum dan dapat dibaca ulang di web site.

  2. Diskusi khusus
    1. Diselenggarakan melalui webbinar. Topik akan ditentukan berdasarkan hasil diskusi rutin yang perlu dibahas lebih mendalam dengan menampilkan narasumber yang kompeten. Kegiatan diskusi khusus melalui webbinar akan disusun TOR terlebih dahulu

  3. Pelatihan
    1. Diselenggarakan melalui tatap muka atau webbinar. Topik akan ditentukan berdasarkan hasil diskusi rutin dan diskusi khusus antara lain: 
      1. Pelatihan sistem informasi rujukan KIA.
      2. Pelatihan konsultan pendamping pengembangan manual rujukan.
      3. Pelatihan monitoring dan evaluasi pelaksanaan manual rujukan

  4. Monitoring dan Evaluasi
    1. Diselenggarakan melalui teleconference. Moderator CoP akan melakukan monev kepada masing-masing peserta CoP terkait dengan pelaksanaan manual rujukan

 

Pengelola

CoP ini akan dikelola oleh Divisi Manajemen Mutu PKMK FK UGM, terdiri dari:

  1. Moderator
    (akan mengelola kepesertaan, moderator saat diskusi rutin dan khusus, mengidentifikasi topik diskusi khusus dan pelatihan, menyusun TOR webbinar): Armiatin, SE, MPH

  2. Fasilitator
    (mencari sumber-sumber referensi/materi pembelajaran, menyusun artikel singkat untuk mengangkat topik diskusi, menjadi narasumber aktif pada setiap diskusi dan pelatihan):
    1. dr. Sitti Noor Zaenab, M.Kes
    2. Dr. dr. Dwi Handono, M.Kes
    3. dr. M. Hardhantyo PW

 

Pendaftaran

Dilakukan melalui website www.kesehatan-ibuanak.net  

Daftar anggota akan dikelola oleh penanggung jawab pengelola CoP Divisi Manajemen Mutu PKMK FK UGM sebelum diserahkan kepada maderator

Persyaratan sebagai anggota:
  • Praktisi dalam pengembangan, penerapan dan monev manual rujukan KIA (seperti tertulis didalam bagian peserta diatas)
  • Memiliki aplikasi Whats App
  • Memiliki alamat e-mail aktif
  • Membayar iuran anggota sebesar Rp. 1.000.000,- (tahun pertama gratis)

 

Pendaftaran

 

 

More Articles ...

mrsmpkkmrsbencanamjkmjkmjkdeskesrural  aids2

Download Free Designs http://bigtheme.net/ Free Websites Templates