Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak-anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai, dimana hal ini masih menjadi masalah kesehatan yang dominan di Indonesia. Pada 2019, pemerintah berencana melakukan upaya dalam mengurangi stunting melalui berbagai agenda dan intervensi efektif guna menghasilkan konsumsi gizi adekuat, pola asuh tepat dan pelayanan kesehatan serta kesehatan lingkungan yang baik. Berikut adalah dokumen perencanaan program prioritas nasional tahun 2019 dalam mengurangi stunting yang disusun oleh Pungkas Bahjuri Ali, sebagai Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Kementerian PPN/Bappenas. Dokumen ini memuat draft rancangan kerja pemerintah (RKP) tahun 2019 yang memasukkan proyek pengurangan stunting disertai dengan daftar intervensi spesifik disertai rencana pembiayaan serta monitoring dan evaluasinya.

SELENGKAPNYA

USAID menginisiasi pertemuan kick off USAID project Jalin pada Selasa – Rabu, 22 – 23 Mei 2018 di The Westin Hotel. Pertemuan ini akan diselenggarakan dalam bentuk presentasi panel, talkshow, dan diskusi terkait kesehatan ibu dan bayi baru lahir di Indonesia. Topik yang akan dibahas pada Selasa, 22 Mei 2018 yaitu Evidence Gaps in Maternal and Newborn Health. Lalu pada Rabu, 23 Mei 2018 akan dibahas Indonesia Mothers and Newborns, Everybody’s Bussiness. Fasilitator kegiatan ini antara lain, Irwan Julianto, Ira Koesno, dan Victor Chandrawira.

Tingkat kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kualitas pelayanan dari tenaga kesehatan itu sendiri. Kualitas pelayanan kesehatan antar daerah masih menemui banyak perbedaan. Perbedaan kualitas pelayanan secara tidak langsung dipengaruhi oleh kurangnya panduan/ guideline yang seragam antar daerah. WHO membuat panduan terbaru untuk kesehatan ibu yang berisi tentang intervensi kesehatan yang bisa diberikan pada ibu hamil dan perilaku hidup sehat apa yang harus dilakukan oleh ibu hamil maupun bayinya setelah persalinan.

Menjadi sehat merupakan harapan setiap orang, begitu pula wanita. Penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung, dan obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi pada kehamilan maupun infertilitas. Sebanyak 45% kehamilan di Amerika serikat merupakan kehamilan yang tidak diinginkan, dan jumlahnya meningkat menjadi 75% pada remaja. Fakta lainnya, wanita usia 15-44 tahun di Amerika, 12%-nya mengalami kesulitan untuk hamil maupun mempertahankan kehamilannya. Berdasarkan fakta tersebut, CDC melakukan penelitian dan kerjasama untuk meningkatkan kesehatan wanita, meningkatkan kualitas pelayanan keluarga berencana, dan pelacakan hasil terapi fertilitas.

Panduan tatalaksana terapi ARV untuk dewasa pertama kali dibuat oleh WHO pada  2002. Sedangkan penggunaan ARV untuk mencegah transmisi dari ibu ke anak pertama kali dilakukan pada  2004. Dari panduan yang sudah ada terus mengalami perubahan dan perkembangan dalam kurun waktu tertentu. Sejak  2013, terdapat pembaharuan dari panduan yang sudah ada, selanjutnya pada 2015 hingga 2016 WHO memperbarui panduan tatalaksana penggunaan terapi ARV. Harapannya  semakin banyak penggunaan ARV pada ibu hamil maupun menyusui dapat menurunkan angka transmisi HIV dari ibu ke anak. Sehingga taraf kesehatan ibu dan anak meningkat serta mortalitas ibu dan anak akan menurun.

Page 1 of 3

Kantor

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK)
Universitas Gadjah Mada

Gd. IKM Baru Lt. 2, Sayap Utara
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281

Telp: (+62274) 549425

Email: unitpublikasi@gmail.com

Dies MMR & PKMK