Illustrasi Illustrasi Foto: Google
18 December

Kesehatan Ibu-Rekomendasi WHO 2017

Written by 

Tingkat kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kualitas pelayanan dari tenaga kesehatan itu sendiri. Kualitas pelayanan kesehatan antar daerah masih menemui banyak perbedaan. Perbedaan kualitas pelayanan secara tidak langsung dipengaruhi oleh kurangnya panduan/ guideline yang seragam antar daerah. WHO membuat panduan terbaru untuk kesehatan ibu yang berisi tentang intervensi kesehatan yang bisa diberikan pada ibu hamil dan perilaku hidup sehat apa yang harus dilakukan oleh ibu hamil maupun bayinya setelah persalinan.

Pada guideline terbaru WHO untuk pelayanan kesehatan ibu dibagi menjadi beberapa bahasan, promosi, preventif, dan proteksi; manajemen kondisi ibu. Dari sisi promosi preventif dan proteksi dijelaskan hal-hal terkait dengan kesehatan ibu sebelum kehamilan. Di panduan ini dijelaskan tentang manfaat dan pentingnya melakukan ANC sejak awal kehamilan dan juga perencanaan kehamilan. Melalui upaya tersebut, diharapkan ibu dapat mendapat nutrisi kehamilan yang sesuai dan cukup. Selain itu, deteksi dini terhadap kehamilan berisiko juga dapat meningkatkan pelayanan tingkat lanjut. Misalnya pada ibu hamil dengan preeklampsia maupun eklampsia, diharapkan dapat dideteksi risikonya sedini mungkin sehingga dapat dilakukan perencanaan terkait kondisi ibu maupun janin. Jika diperlukan dapat dilakukan tindakan pencegahan sedini mungkin agar ibu maupun janin bisa sehat.

Pada panduan ini juga dijelaskan tentang intervensi yang dapat dilakukan sebagai upaya meningkatkan luaran dari bayi yang lahir prematur/ tidak cukup bulan, dengan penggunaan kortikosteroid, tokolitik, magnesium sulfat, dan antibiotik misalnya. Intervensi lain untuk mencegah terjadinya infeksi pada ibu sebelum, selama, maupun setelah persalinan juga dijelaskan dalam guideline ini. Bagaimana dengan induksi persalinan? Dalam panduan ini juga dijelaskan waktu yang tepat untuk dilakukan induksi (jika usia kehamilan memasuki minggu ke 41 namun belum ada tanda-tanda persalinan) dan metode apa saja yang bisa digunakan, seperti prostaglandin, misoprostol, maupun balon kateter. Hal yang tidak kalah penting adalah pencegahan terjadinya perdarahan post partum (PPH), dimana telah kita ketauhi PPH menjadi penyebab paling sering kematian ibu. Selanjutnya pelayanan post natal atau setelah persalinan, ditujukan untuk senantiasa memantau kondisi ibu maupun bayi termasuk nutrisi, kondisi fisik dan mental. Sehingga kehamilan yang sehat dan terencana bisa tercapai dan angka kematian ibu maupun bayi bisa diturunkan.

Manajemen kesehatan ibu pada guideline ini lebih ditekankan kepada kondisi sebelum hingga paska persalinan dan infeksi lain yang sering ditemukan, meliputi PPH, preeklampsia dan eklampsia, infeksi selama kehamilan, HIV, malaria, dan tuberkulosis. Pada  manajemen PPH lebih dijelaskan tentang pemilihan agen koagulan untuk menghentikan perdarahan serta penggunaan antibiotik untuk mencegah infeksi lebih lanjut. Intervensi tatalaksana preeklampsia dan eklampsia ditekankan pada pemilihan obat dan rute administrasi yang tepat pada ibu hamil. Selain itu, juga dijelaskan mengenai waktu induksi persalinan yang tepat bagi ibu hamil dengan preeklampsia maupun eklampsia. Ibu hamil dengan preeklamsia berat dengan janin yang sehat disarankan untuk dilakukan induksi persalinan pada usia kehamilan 34 minggu. Selain pada tatalaksana PPH penggunaan antibiotik juga dilakukan pada saat terjadi infeksi selama kehamilan. Ampisilin dan klindamisin merupakan pilihan antibiotik yang sering digunakan untuk mengatasi infeksi pada ibu hamil.

Ibu hamil dengan HIV dianjurkan untuk menerima terapi ARV segera setelah diketahui menderita HIV. Demikian juga dengan bayi yang dilahirkan dari ibu dengan HIV, harus segera mendapatkan inisiasi terapi ARV. Pada ibu hamil yang terkena malaria, terapi anti malaria biasanya diberikan pada trimester I dan diberikan kemoprofiaksis setiap minggunya hingga bayi dilahirkan. Pada ibu hamil dengan TB dianjurkan untuk dilakukan pemantauan status gizi dan dipastikan asupan nutrisi ibu maupun janin terpenuhi. Bila perlu diberikan multivitamin oral.  


SUMBER:

WHO, 2017, WHO Recommendation on Maternal Health, Geneva

Read 2475 times Last modified on Monday, 18 December 2017 15:30
Rate this item
(0 votes)

Kantor

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK)
Universitas Gadjah Mada

Gd. IKM Baru Lt. 2, Sayap Utara
Jl. Farmako Sekip Utara Yogyakarta 55281

Telp: (+62274) 549425

Email: unitpublikasi@gmail.com

Dies MMR & PKMK