Tes HIV Mandiri Untuk Menjangkau Hidden Cases

Salah satu kendala penanganan penyakit HIV adalah terlambatnya diagnosa karena kurangnya akses pelayanan diagnosa di fasilitas kesehatan (faskes). Selain itu, stigma negatif terhadap penyakit ini juga membuat enggan masyarakat untuk melakukan diagnosa di faskes. Diagnosa dini perlu dilakukan terutama pada ibu hamil sebagai kondisi penting yang perlu diketahui dalam proses persalinan dan menyusui. Sayangnya, kebijakan tes HIV bumil di Indonesia masih memiliki celah untuk sang ibu atau pasien menolak melakukan tes HIV. Tenaga kesehatan wajib menawarkan tes HIV, namun kesediaan sang ibu (suka rela) yang menentukan dilakukannya tes HIV. Keengganan yang serupa juga terjadi di berbagai negara lainnya.

Sebagai salah satu solusi dalam meningkatkan cakupan tes HIV, WHO baru-baru ini menggalakan tes HIV mandiri. Terdapat dua jenis tes yang dapat dilakukan di rumah yaitu usap mulut dan tes darah. Tes melalui darah di sini serupa dengan tes gula darah sesaat yang mulai familiar di masyarakat. Melalui tes mandiri ini diharapkan masyarakat dapat lebih dini mengetahui diagnosa HIV dan segera mendapat perawatan kesehatan seperti terapi antiretroviral. Berikut ini terdapat link sosialisasi WHO untuk alat tes HIV mandiri (Dhini RN & Tiara M).

Tes HIV Mandiri – WHO:

klik disini

HIV Self Testing Video:

klik disini

 

Menyikapi Depresi Setelah Melahirkan

Sebanyak 1 dari 6 perempuan pasca melahirkan mengalami depresi. Depresi ditandai dengan bertahannya rasa sedih dan kehilangan ketertarikan melakukan aktifitas yang biasanya menyenangkan untuk dijalani yang diikuti dengan ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari minimal selama 2 minggu. Masa ini merupakan masa kritis bagi ibu, mengingat proses kehamilan dan kelahiran berakibat pada kelelahan dan berbagai perubahan fisik lainnya. Beberapa indikasi depresi pasca kehamilan meliputi kesedihan tanpa alasan yang jelas, kehilangan nafsu makan, cenderung bersikap berlebihan terhadap sesuatu, kehilangan harapan, merasa kurang memiliki ikatan dengan bayi dan cenderung khawatir tidak cukup baik merawat bayi, hingga pemikiran untuk menyakiti diri sendiri hingga bunuh diri.

Hal ini hanya berlangsung selama beberapa bulan, namun tanpa disikipai dengan baik, depresi dapat berlanjut hingga tahunan. Oleh karenanya, sudah saatnya masalah depresi tidak lagi dianggap tabu untuk didiskusikan dan tidak lagi dianggap memalukan terutama dalam upaya memperoleh penanganan yang tepat. Dukungan dan pengetahuan yang cukup di keluarga, teman hingga petugas petugas kesehatan terkait depresi pasca melahirkan dapat membantu para ibu untuk melewati masa kritis ini. Terdapat link handouts menghadapi depresi pasca melahirkan dari WHO untuk dapat ditelaah lebih lanjut (Dhini RN & Tiara M)

Link 1   Link 2 

 

Kenali Depresi Pada Anak

Depresi tidak hanya terjadi pada orang dewasa, namun juga dapat terjadi pada anak-anak. Masa pertumbuhan dan perkembangan anak memiliki banyak tantangan, baik secara emosi terkait hubungan dengan teman, guru atau bahkan keluarga maupun intelektual seperti prestasi di sekolah. Kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Melalui kampanye untuk lebih terbuka mendiskusikan masalah depresi, WHO juga menjadikan penanganan depresi anak sebagai salah satu topiknya. Mendiskusikan dengan anak menjadi langkah pertama yang kemudian diikuti dengan merujuk pada ahli seperti psikiatri apabila diperlukan. Handout WHO untuk permasalahan depresi anak dapat dibaca lebih lanjut pada link di bawah. (Dhini RN & Tiara M)

Link 1   Link 2

 

Menaikan Pajak Minuman Kemasan Tinggi Gula/Soda untuk Mencegah Non-Communicable Diseases (NCDs)

Ada yang menarik dalam langkah pencegahan penyakit tidak menular atau NCDs oleh WHO di tahun ini. Sebagaimana kita ketahui, tingginya konsumsi minuman soda berdampak terhadap meningkatnya kasus obesitas yang menjadi salah satu faktor risiko dari NCDs. Kali ini bukan program penurunan berat badan atau pun anjuran diet sehat yang menjadi intervensi oleh pemerintah yang direkomendasikan, namun justru kebijakan fiskal berupa kenaikan pajak minuman soda atau sugary drinks untuk memperbaiki pola konsumsi atau diet masyarakat sehingga dapat mencegah bertambahnya kasus NCDs.

Seperti diilustrasikan dalam video youtube oleh WHO (link tersedia di bawah), negara Mexico menjadi salah satu negara yang memiliki kasus obesitas yang tinggi dengan tingginya konsumsi minuman soda sebagai faktor risikonya. Maka tdak tanggung-tanggung, kebijakan pun diambil dengan menaikan pajak minuman soda yang secara otomatis menaikan harga di pasaran, sehingga konsumsi masyarakat pun menurun. Ini langkah efektif untuk menghentikan epidemik di suatu negara. Selain video, terdapat laporan resmi terkait kebijakan peningkatan pajak ini. (Dhini RN & Tiara M).

video   report   report summary

 

Berita Nasional

upaya-tenaga-kesehatan-amelia-berantas-mitos-kehamilanIbu hamil itu tidak boleh makan belut, nanti anak enggak punya tulang". "Ibu hamil itu tidak boleh makan terong, nanti anak gosong, atau badannya...
5
ini-penyebab-terbanyak-kematian-ibu-di-ntbDINAS Kesehatan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mencatat angka kematian ibu sebanyak tujuh kasus sejak Januari hingga hari ini. "Sedangkan angka...
7

Berita Internasional

when-men-tackle-mother-and-child-health-lessons-from-malawiTalk of gender mainstreaming – the assessing of all policies, programmes, laws and interventions on the basis of their impact on both men and women at all...
4
dilemma-why-and-who-recommends-pregnant-women-to-see-their-health-providers-quite-oftenThe World Health Organization or WHO, for short, updated the guidelines on antenatal care. WHO recommended that women in pregnancy should visit their...
22

Website Terkait

mrsmpkkmrsbencana mjkmjk
mjkdeskes deskes dokter-ruralm  aids2

Download Free Designs http://bigtheme.net/ Free Websites Templates